Merangin, Jambi – IntelejenNews.com –
Pengerjaan proyek pembangunan ruang kelas baru (RKB) di MAN 1 Merangin, Kecamatan Bangko, Provinsi Jambi, menuai keluhan dari warga dan pengamat. Berdasarkan informasi yang diperoleh oleh pihak media, proyek tersebut diduga dikerjakan asal-asalan dan tidak sesuai dengan spesifikasi serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditentukan oleh konsultan proyek.
Investigasi yang dilakukan oleh tim media di lapangan menemukan bahwa pondasi bangunan dibangun menggunakan batu bata, bukan batu kali atau batu pecahan sebagaimana yang seharusnya digunakan untuk kekuatan pondasi bangunan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kualitas bangunan tidak akan bertahan lama dan rawan mengalami kerusakan di kemudian hari.
Proyek Bernilai Rp 2,7 Miliar
Berdasarkan informasi yang tercantum pada papan proyek, pembangunan gedung ruang kelas baru ini bersumber dari dana Kementerian Agama Provinsi Jambi, dengan anggaran sebesar Rp 2.763.211.510. Proyek ini dilaksanakan oleh CV Geria Citra Mandiri dengan konsultan PT Archipta Consulindo, dan memiliki masa pengerjaan selama 150 hari kalender, dimulai dari 4 Juni 2024.
Kontraktor Sulit Dihubungi
Selain dugaan pengerjaan yang tidak sesuai standar, pihak kontraktor juga dinilai sulit diajak berkomunikasi. Upaya untuk menghubungi pihak kontraktor baik secara langsung maupun melalui telepon tidak membuahkan hasil. Kondisi ini semakin memperkuat kecurigaan warga terkait lemahnya pengawasan terhadap proyek tersebut.
Harapan Warga untuk Tindakan Tegas
Warga berharap Kementerian Agama Provinsi Jambi serta pihak Aparat Penegak Hukum (APH) segera mengambil tindakan tegas terhadap kontraktor yang diduga melakukan pengerjaan proyek secara asal-asalan. Mereka juga mengharapkan adanya pengawasan yang lebih ketat dari konsultan proyek untuk memastikan kualitas pembangunan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
“Kami berharap agar kontraktor nakal seperti ini diberikan sanksi tegas, agar proyek-proyek yang dibiayai oleh negara tidak dirugikan,” ujar salah satu warga yang tidak ingin disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor belum memberikan tanggapan resmi terkait permasalahan ini.
Siepronhadi






