MERANGIN, JAMBI – INTELEJENNEWS.COM – Seorang oknum dosen Universitas Merangin (UM) berinisial SSWT diduga memaksa mahasiswanya untuk terlibat dalam kegiatan senam bersama yang berafiliasi dengan salah satu pasangan calon (paslon) kepala daerah Merangin periode 2024-2029.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu narasumber, mahasiswa yang menolak untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut diancam tidak akan diberikan nilai oleh oknum dosen tersebut. Narasumber menyebutkan bahwa mahasiswa jurusan seni tari semester 5 kelas B diwajibkan untuk hadir dalam kegiatan senam yang digelar pada 10 November 2024 di depan Kantor Bupati Merangin pada pukul 07.00 pagi.
“Kalau tidak ikut, mahasiswa diancam tidak akan mendapat nilai. Kehadiran akan dicatat melalui absensi yang diawasi langsung oleh dosen SSWT,” ungkap narasumber tersebut.
Kritik Terhadap Netralitas Lembaga Pendidikan
Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Perludem, Khoirunnisa Nur Agustyati, menegaskan bahwa lembaga pendidikan, termasuk kampus, seharusnya menjadi tempat untuk memberikan pendidikan politik yang sehat, bukan menjadi alat untuk kepentingan politik praktis.
“Kampus idealnya memberikan pendidikan politik yang netral, seperti pemahaman pentingnya partisipasi dalam pemilu, pendidikan kewarganegaraan, dan informasi pemilih. Namun, jika justru berpihak pada salah satu paslon, hal ini sangat tidak sehat,” tegas Khoirunnisa.
Ia juga menyoroti pentingnya netralitas tenaga pendidik dalam menghadapi Pemilu 2024, mengingat lebih dari 52% pemilih adalah generasi muda, termasuk pelajar SMA dan mahasiswa. “Tenaga pendidik harus menjaga netralitas, karena mereka memiliki pengaruh besar terhadap pemilih muda. Keterlibatan kampus dalam politik praktis dapat mencederai demokrasi dan kepercayaan mahasiswa,” tambahnya.
Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam memanfaatkan posisi mereka untuk mendukung kepentingan politik. Hingga berita ini ditulis, pihak Universitas Merangin belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan ini.
sieprohadi






