Majalengka – Kasus dugaan penipuan yang diduga dilakukan oleh oknum pemilik Koperasi Baitul Mal Wattanwil (KBMT) inisial Hajah N.H asal dari desa Gunungsari Kecamatan Kasokandel dan sebelum berpisah suami dari N.H berinisial Haji.S.P yang berasal dari wilayah Kecamatan Sumberjaya. Yang pada saat itu pasangan suami istri pemilik koprasi BMT Assalam masih tinggal bersama di daerah kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka.
Berdasarkan keterangan dari narasumber, yang enggan dipublikasikan namanya. Hancurnya koperasi BMT Assalam tersebut diduga, semenjak pasangan pemiliknya bercerai/berpisah dan kini hanya tinggal kenangan. Yang tersisa adalah sebuah bangunan kantor tak terpakai dan tangisan pilu korban yang tak tau entah kemana untuk menuntut kerugianya. Jika dijumlahkan kerugian korban yang mendepositkan uangnya kurang lebih berjumlah miliaran rupiah. Tutur narasumber
Kantor Koperasi BMT Assalam beralamat di JL. Raya Barat No. 18 Sumberjaya Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Dari pantauan awak media, sampai kini bangunan tersebut terlihat masih kosong.
Berbekal informasi dari narasumber, awak media berhasil menghimpun keterangan dari seorang wanita mantan pegawai N.H dan S.P sebut saja dengan nama samaran Wiwi, pada saat dilakukan wawancara dirumah Wiwi yang tak jauh dari bekas kantor koperasi tersebut menjelaskan, kronologi kolepnya koprasi BMT Assalam dan membocorkan sebagian nama-nama korban yang dirugikan. Saat digali keteranganya oleh tim media Wiwi menjawab
“Saya bekerja dari tahun 2012 4Tahunan bekerja. Pemilik koperasi pak haji SP, dan istrinya bu haji N.H yang dulunya belum bercerai, mereka rumah tinggalnya masih di sekitaran daerah Kecamatan Sumberjaya. Pemegangnya adalah pak Dedi Supriadi orang bongas wetan. Sebelum koprasi Assalam tutup pak Dedi sudah kluar pindah ke danabro Loji, terus yang hafal pembukuan kan pak Dedi, tidak jelas penyebabnya, dia tiba-tiba kluar/berhenti dan pindah kerja” Ujar Wiwi
Wiwi mengatakan, sebelum detik-detik koprasi kolep, dirinya sempat menanyakan terkait input-output keuangan yang dirasanya tidak seimbang, dengan nada santainya sang pemilik menjawab pertanyaan yang disampaikan kepada pemilik koprasi tersebut. Tutur Wiwi
“Pada saat itu saya sempat bertanya ke pak haji S.P sama Bu haji N.H uang masuk lebih kecil dan uang kluar lebih besar yang tidak seimbang, pada saat itu bilau menjawab “ga papa wi dari pendiri dulunya sudah begitu, yang penting uang masuk uang kluar ditulis” jelas Wiwi
Wiwi juga menerangkan untuk metode penagihan yang dilakukan ke setiap nasabah yang mempunyai pinjaman, biasanya yang turun ke lapangan langsung sama pak haji, bu haji, kadang juga sama pak Dedi, saya juga sering diajak. Ucapnya
Masih dengan Wiwi, saat itu Bu haji N.H pernah menyuruh saya untuk mengambil uang nasabah yang mau mendepositkan uangnya, dan itu masih tetangga saya yang bernama inisial B.N saya ga berani mengambil uang sendirian, saya ajak pak Dedi supaya ada saksi, setelah uang diterima dari nasabah, kami tiba di kantor bu haji sudah menunggu, uang tersebut langsung ditulis di pembukuan bu haji N.H sendiri. Ujarnya
Wiwi menyesalkan, malah saya sendiri yang kena imbasnya setelah koprasi mengalami kolep, sampai sekarang orang tersebut terus nagih ke saya, bahkan cara penagihannya tidak melihat tempat, padahal saya dan suami sudah menjelaskan uang tersebut di ibu haji N.H tapi sang nasabah tidak mau tau karena pada saat pengambilan uang memang saya yang diperintahkan oleh bu haji, dan ditemani oleh pak Dedi” Ungkapnya
Lebih lanjut Wiwi membeberkan, salah satu orang yang menjadi korban juga Mang Kasna, uang miliknya keseluruhan nilainya 35juta, baru dikembalikan 7juta rupiah dan sisa yang belum di kembalikan 28juta lagi sampe sekarang. Setelah mengalami kolep seseorang sengaja menghilangkan barang bukti termasuk buku catatan kas. Terangnya
“Pokoknya saat koprasi sudah mulai kolep buku buku data kas nasabah hilang, ga tau siapa yang menghilangkannya” lanjut Wiwi
Sambung Wiwi, selama ini kalau ada yang nagih ke saya langsung saya sampaikan ke bu haji, dan saya arahkan ke beliau. Untuk garis besar beberapa nasabah yang belum dikembalikan kerugiannya ini hanya sebagian sepengetahuan saya adalah, Bu haji etik, mang kasna, mang makbul, bu haji detik, Bu emah, untuk nasabah lainya yang menjadi korban dengan nilai yang besar puluhan juta langsung berhadapan dengan bu haji N.H sang pemilik. Beber Wiwi
Awak media terus berupaya mencari korban, seseorang yang berinisial A*i salah satu perwakilan korban dari oknum pemilik koprasi BMT Assalam. Yang kini keberadaanya di daerah Jawa, pada hari Sabtu tanggal 27/04 saat di konfirmasi oleh tim matamaja grup melalui sambungan pesan aplikasi watshap yang diduga tertipu oleh N.H dan S.P. senilai 300juta rupiah. A*i menjawab dan membenarkan bahwa dirinya sebagai korban.
“Wa’alaikumussalam mohon maaf saya baru sempat membalas karena saya sedang agak sibuk, iya benar, karena bunga dan pokok tidak dibayarkan semenjak tahun 2018 dan tidak ada kejelasan sampai sekarang” Jawab A*i Senin 29/04
Masih dengan A*i, jika perkara ini sudah naik ke pengadilan, dirinya bersedia untuk menyempatkan waktunya, dari Jawa untuk datang ke Majalengka, apabila perkaranya ini sudah dalam proses naik ke pengadilan.
“kalau mungkin nanti perkaranya sudah naik ke pengadilan dan saya diperlukan untuk hadir memaparkan bukti dari korban saya Insya Allah bersedia datang kesana” Tegasnya 29/04
Sementara itu sang pemilik koperasi BMT Assalam Bu haji N.H saat di minta hak jawab dan hak koreksi terkait pemberitaan yang sudah di tayangkan oleh beberapa redaksi matamaja grup pada hari Minggu 28/04 yang dikirimkan kepada N.H melalui sambungan pesan aplikasi watshapnya. Sampai berita diterbitkan N.H kembali tidak merespon.30/04
Untuk melengkapi pemberitaan lanjutan, tim dari Matamaja grup, sedang mencari status dan keberadaan Haji S.P mantan suami Hajah N.H. dikarenakan N.H belum bersedia menjawab pertanyaan dari pihak media 30/04
(Tim/red)






